Pelajar Polandia Senang ada Larangan PR Sekolah

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 11 April 2024 - 23:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

[ad_1]

Yuks, dukung promosi kota/kabupaten Anda di media online ini dengan bikin konten artikel dan cerita seputar sejarah, asal-usul kota, tempat wisata, kuliner tradisional, dan hal menarik lainnya. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Anak-anak di Polandia bergembira atas pembatasan ketat yang diberlakukan pemerintah terhadap pekerjaan rumah dari sekolah. Perubahan ini terjadi di tengah diskusi luas mengenai perlunya memodernisasi sistem pendidikan Polandia. Kritikus mengatakan sistem yang berlaku selama ini terlalu menekankan pada pembelajaran hafalan dan tidak cukup menekankan pada pemikiran kritis dan kreativitas.

Ola Kozak senang luar biasa. Bocah perempuan yang menyukai musik dan menggambar ini berharap memiliki lebih banyak waktu luang untuk menjalani hobinya, setelah pemerintah Polandia memberlakukan pembatasan ketat terhadap jumlah pekerjaan rumah (PR) yang boleh diberikan oleh sekolah.

Siswa kelas lima berusia 11 tahun itu tinggal di pinggiran kota Warsawa bersama orang tua dan adik-adiknya.

“Saya senang karena PR kini dibatasi. Saya tidak terlalu menyukainya. Kebanyakan teman di kelas saya, di pagi hari, akan menyalinnya dari seseorang yang sudah mengerjakan PR. Beberapa bahkan menyalin dari internet. Jadi ini tidak masuk akal,” sebutnya.

Pemerintahan Perdana Menteri Donald Tusk memberlakukan larangan PR pada bulan ini di tengah diskusi luas mengenai perlunya memodernisasi sistem pendidikan Polandia, yang menurut para kritikus terlalu menekankan pada pembelajaran hafalan dan PR, dan tidak cukup pada pemikiran kritis dan kreativitas.

Anak-anak memasuki ruang kelas di Sekolah Dasar 223 di Warsawa, Polandia, Rabu 3 April 2024.(AP/Czarek Sokolowski)

Berdasarkan keputusan tersebut, guru tidak lagi memberikan PR yang diwajibkan kepada anak-anak di kelas satu hingga tiga.

Di kelas empat hingga delapan, pekerjaan rumah kini bersifat opsional dan tidak diperhitungkan dalam nilai akhir.

Tidak semua orang menyukai perubahan ini bahkan orang tua Ola pun berbeda pendapat.

Magda Kozak, sang ibu, mengatakan, “Saya tidak senang, karena PR adalah cara untuk mengonsolidasikan apa yang telah dipelajari. Ini membantu anak tetap mengetahui apa yang sebenarnya telah dipelajari di sekolah.”

Perdebatan mengenai jumlah PR yang tepat adalah hal biasa di seluruh dunia. Meskipun beberapa penelitian menunjukkan sedikit manfaat PR bagi pelajar muda, para ahli lain mengatakan bahwa PR dapat membantu mereka belajar bagaimana mengembangkan kebiasaan belajar dan konsep akademik.

Sistem pendidikan Polandia telah mengalami sejumlah perombakan yang kontroversial. Hampir setiap pemerintahan baru mencoba melakukan perubahan, sesuatu yang menurut banyak guru dan orang tua membuat mereka bingung dan putus asa.

Ola Kozak, 11, kanan, dan adik laki-lakinya Julian Kozak, 9, duduk di meja tempat mereka biasa mengerjakan pekerjaan rumah di rumah keluarga di Warsawa, Polandia, Jumat, 5 April 2024. ( AP/Czarek Sokolowski)

Ola Kozak, 11, kanan, dan adik laki-lakinya Julian Kozak, 9, duduk di meja tempat mereka biasa mengerjakan pekerjaan rumah di rumah keluarga di Warsawa, Polandia, Jumat, 5 April 2024. ( AP/Czarek Sokolowski)

Sławomir Broniarz, ketua Persatuan Guru Polandia, mengatakan bahwa meskipun ia menyadari perlunya meringankan beban siswa, peraturan PR yang baru adalah contoh perubahan yang dipaksakan dari atas tanpa konsultasi yang memadai dengan para pendidik.

“Secara umum, para guru menganggap hal ini terjadi terlalu cepat, terlalu terburu-buru, terlalu sedikit pembicaraan mengenai hal ini, terlalu sedikit konsultasi. Ada keharusan politis dan, ya, hal itu harus dilakukan, tapi sepertinya harus ada pembicaraan dengan para guru terlebih dahulu,” sebutnya.

Broniarz berpendapat bahwa menghilangkan PR dapat memperlebar kesenjangan pendidikan antara anak-anak yang mendapat dukungan kuat di rumah dan anak-anak dari keluarga miskin yang kurang mendapat dukungan. Ia malah mendesak pemerintah untuk melakukan perubahan yang lebih luas pada kurikulum. [ab/uh]

[ad_2]

Berita Terkait

Kasus Siskaeee Dkk, Polda Metro Limpahkan Berkas 12 Orang Tersangka Produksi Film Porno ke Kejati DKI
Paus akan ke Indonesia, Singapura, Timor-Leste, Papua Nugini pada 2-13 September
Lindungi Remaja dan Lawan “Sextortion,” Instagram Buat Fitur Baru yang Kaburkan Konten “Telanjang”
Wadah Makanan Ramah Lingkungan Bantu Tekan Polusi Plastik
Gereja Katolik Portugal Setujui Kompensasi Korban Pelecehan Seksual
Protes di Swedia pasca Penembakan oleh Geng Remaja
Hidangan Lebaran di Turki yang Ramah Diabetes
Presiden Biden Ucapkan Selamat Idulfitri

Berita Terkait

Minggu, 9 Juni 2024 - 11:47 WIB

Jaga Harga Wajar di Tingkat Konsumen, Pemerintah Resmi Tetapkan Harga Eceran Tertinggi Beras

Kamis, 23 Mei 2024 - 11:49 WIB

BI Rate Tetap 6,25 Persen untuk Perkuat Stabilitas dan Jaga Pertumbuhan Ekonomi dari Dampak Global

Kamis, 16 Mei 2024 - 07:23 WIB

Bapanas Intensifkan Pemantauan dan Intervensi Program untuk Jaga Stabilitas Pangan Jelang Iduladha

Selasa, 14 Mei 2024 - 11:42 WIB

Kemendagri Minta Seluruh Pemerintah Daerah Pantau Perkembangan Tingkat Inflasi di Wayahnya

Selasa, 14 Mei 2024 - 09:18 WIB

Soal Perkembangan Tingkat Inflasi di Wayahnya, Kemendagri Minta Seluruh Pemerintah Daerah Pantau

Selasa, 7 Mei 2024 - 16:17 WIB

Airlangga Sebut Perlunya Aksi Berbasis Solusi bagi Disrupsi Global di Pertemuan Tingkat Menteri OECD

Selasa, 30 April 2024 - 15:58 WIB

Mencapai Sebesar Rp43,2 Triliun, Realisasi Investasi Hilirisasi di Sektor Mineral pada Kuartal I 2024

Sabtu, 27 April 2024 - 13:17 WIB

Rp 2 Triliun untuk Non Infrastuktur Termasuk Promosi dan Sosialisasi, Realisasi Anggaran APBN IKN Rp4,3 triliun

Berita Terbaru