Matikan atau Hidupkan Era Baru Orisinalitas Musik?

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 1 Maret 2024 - 05:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

[ad_1]

Yuks, dukung promosi kota/kabupaten Anda di media online ini dengan bikin konten artikel dan cerita seputar sejarah, asal-usul kota, tempat wisata, kuliner tradisional, dan hal menarik lainnya. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Teknologi kecerdasan buatan atau AI kini semakin berkembang. Bahkan sudah merambah dunia industri musik. Banyak pro dan kontra di kalangan musisi terkait penerapan AI, namun sejumlah pakar menganggap hal itu tidak dapat dielakkan, tetapi perlu ada regulasi ketat dalam penggunaannya.

Penggunaan kecerdasan buatan untuk membuat musik adalah sebuah topik yang memunculkan perdebatan di dunia industri musik.

Berkat perkembangan teknologi terbaru, AI Generatif bisa memproduksi suara yang orisinal, lirik atau bahkan sebuah lagu secara utuh dengan sendirinya.

Robot sekarang membuat musik menyerupai artis pop digital, sementara artis yang sudah ada sering kali menggunakan AI untuk meningkatkan kualitas suara mereka.

Seiring teknologi yang terus berkembang, apakah kecerdasan buatan akan menjadi pertanda matinya musik orisinal, ataukah menjadi babak baru era kreativitas?

Berbicara kepada Reuters, musisi rock YUNGBLUD meyakini AI bisa menjadi sebuah alat untuk musiknya.

“Saya kira AI dapat memberi saya inspirasi atau gagasan baru. Saya rasa ini tidak menggantikan live music. Itulah cara saya memandangnya,” ujarnya.

Sementara musisi lain seperti musisi rock alternatif Nova Twins, tidak setuju dengan kehadiran AI di dunia musik.

“Saya tidak suka ini. Kami tidak suka. Saya rasa jika Anda perlu AI untuk membuat lagu, khususnya agar hasilnya disukai, itu tidak bagus.”

Baru-baru ini AI berhasil membawa kembali The Beatles, menampilkan suara John Lennon yang diekstrapolasi dengan AI dari sebuah rekaman lama.

Industri raksasa musik Warner Music juga telah menandatangani kesepakatan untuk membuat kembali suara penyanyi Prancis lama Edith Piaf.

Sementara label rekaman dan perusahaan streaming bekerja sama untuk memasarkan teknologi itu, banyak pakar menyatakan bahwa AI memunculkan kekhawatiran legal atau etik, khususnya ketika aturan AI Generatif masih dalam tahapan awal.

Direktur Kebijakan Publik Global Internasional Federation of the Phonographic Industry, Abbas Lightwalla, menjabarkan persoalan itu.

“Masalah yang kita hadapi saat ini adalah banyaknya pengembang AI yang telah melatih model AI dengan karya yang memiliki hak cipta dalam jumlah besar tanpa benar-benar mendapat otorisasi untuk melakukannya, dan kemudian menggunakan AI itu untuk menghasilkan konten baru yang sebenarnya bersaing dengan karya-karya yang telah mereka salahgunakan.”

Lantas bagaimana masa depan AI terlihat untuk industri musik?

Dr. Mathieu Barthet, dosen senior media digital di Queen Mary University mengatakan bahwa AI akan memiliki porsinya tersendiri di dunia musik.

“Saya rasa AI bisa mendapat tempat dalam rantai produksi musik, sekali lagi, jika dipandu dengan cara yang benar, dan jika kita memastikan bahwa para musisi tetap memegang kendali, begitu juga dengan para artis.”

Penggunaan teknologi dalam dunia musik bukan lah hal yang baru. Musisi di berbagai belahan dunia telah menggunakan teknologi untuk menghidupkan karya musiknya sejak tahun 1950an.

Kehadiran AI dinilai akan menambah kualitas musik dan mengembangkan kreativitas para musisi, meski kekhawatiran akan legalitas dan orisinalitas masih menjadi perhatian utama – setidaknya hingga regulasi penggunaan AI Generatif lebih jelas dan terlaksana. [ti/jm]

[ad_2]

Berita Terkait

Kasus Siskaeee Dkk, Polda Metro Limpahkan Berkas 12 Orang Tersangka Produksi Film Porno ke Kejati DKI
Paus akan ke Indonesia, Singapura, Timor-Leste, Papua Nugini pada 2-13 September
Lindungi Remaja dan Lawan “Sextortion,” Instagram Buat Fitur Baru yang Kaburkan Konten “Telanjang”
Wadah Makanan Ramah Lingkungan Bantu Tekan Polusi Plastik
Gereja Katolik Portugal Setujui Kompensasi Korban Pelecehan Seksual
Protes di Swedia pasca Penembakan oleh Geng Remaja
Hidangan Lebaran di Turki yang Ramah Diabetes
Pelajar Polandia Senang ada Larangan PR Sekolah

Berita Terkait

Minggu, 9 Juni 2024 - 11:47 WIB

Jaga Harga Wajar di Tingkat Konsumen, Pemerintah Resmi Tetapkan Harga Eceran Tertinggi Beras

Kamis, 23 Mei 2024 - 11:49 WIB

BI Rate Tetap 6,25 Persen untuk Perkuat Stabilitas dan Jaga Pertumbuhan Ekonomi dari Dampak Global

Kamis, 16 Mei 2024 - 07:23 WIB

Bapanas Intensifkan Pemantauan dan Intervensi Program untuk Jaga Stabilitas Pangan Jelang Iduladha

Selasa, 14 Mei 2024 - 11:42 WIB

Kemendagri Minta Seluruh Pemerintah Daerah Pantau Perkembangan Tingkat Inflasi di Wayahnya

Selasa, 14 Mei 2024 - 09:18 WIB

Soal Perkembangan Tingkat Inflasi di Wayahnya, Kemendagri Minta Seluruh Pemerintah Daerah Pantau

Selasa, 7 Mei 2024 - 16:17 WIB

Airlangga Sebut Perlunya Aksi Berbasis Solusi bagi Disrupsi Global di Pertemuan Tingkat Menteri OECD

Selasa, 30 April 2024 - 15:58 WIB

Mencapai Sebesar Rp43,2 Triliun, Realisasi Investasi Hilirisasi di Sektor Mineral pada Kuartal I 2024

Sabtu, 27 April 2024 - 13:17 WIB

Rp 2 Triliun untuk Non Infrastuktur Termasuk Promosi dan Sosialisasi, Realisasi Anggaran APBN IKN Rp4,3 triliun

Berita Terbaru