Jaga Generasi Muda dari Bahaya Gula

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 7 November 2023 - 15:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

[ad_1]

Yuks, dukung promosi kota/kabupaten Anda di media online ini dengan bikin konten artikel dan cerita seputar sejarah, asal-usul kota, tempat wisata, kuliner tradisional, dan hal menarik lainnya. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Diabetes secara global telah masuk sebagai lima besar penyebab kematian di dunia. Ketua Tim Kerja Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik, Kementerian Kesehatan, Esti Widiastuti, mengatakan kondisi di Indonesia tidak jauh berbeda.

Ia menekankan bahwa diabetes mengubah pola penyakit yang terjadi di dunia, dalam satu dekade terakhir. Konsumsi gula, minyak dan garam yang berlebih, lanjut dia, menjadi salah satu penyebab utama kasus diabetes di Indonesia.

“Satu dari lima orang Indonesia sudah masuk ke dalam golongan pre-diabetes, belum sampai ke diabetes, tapi gula darah sudah di atas normal,” ujarnya saat temu media secara daring, terkait Hari Diabetes Sedunia 2023, Senin (6/11).

Hari Diabetes Sedunia diperingati pada 14 November setiap tahunnya.

Gula pasir putih butiran dan gula batu terlihat pada ilustrasi gambar yang diambil 16 Desember 2018. (Foto: REUTERS/Emmanuel Foudrot)

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013, menyebutkan batas konsumsi gula per hari adalah 10 persen dari total energi 200 kilo kalori (kkal). Jumlah tersebut setara dengan empat sendok makan gula atau 50 gram per orang dalam sehari.

Data tahun 2019, diabetes masuk di urutan keempat penyebab kematian di Indonesia, dengan 6,2 persen. Stroke berada di urutan pertama dengan 19,4 persen, diikuti jantung 14,4 persen, dan kanker 13,5 persen.

Dipicu Faktor Lingkungan

Cuaca panas ekstrem dalam beberapa waktu terakhir, mendorong konsumsi minuman dingin, seperti es teh manis dan minuman kemasan berpemanis. Fenomena ini direspon Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang meminta masyarakat lebih bijak dalam memilih asupan yang aman bagi tubuh.

Beraneka ragam permen Halloween di New York. (Foto: AP)

Beraneka ragam permen Halloween di New York. (Foto: AP)

BPOM mengimbau masyarakat tidak terlalu sering mengonsumsinya es teh manis dan minuman berpemanis kemasan.

“Konsumsi gula melebihi anjuran dapat berisiko menyebabkan obesitas dan diabetes tipe 2,” terang BPOM dalam pernyataannya, beberapa waktu lalu.

Pakar kesehatan anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Profesor Aman Pulungan juga menyoroti minuman dan makanan kemasan dengan pengawet yang sering dikonsumsi anak. Aman menegaskan, kadar gula dalam minuman atau makanan kemasan itu tidak pas untuk anak. Namun, ironisnya jenis jajanan semacam itu banyak tersedia di kantin-kantin sekolah. Jika tidak, makanan atau minuman manis justru disiapkan orang tua untuk bekal sekolah anaknya. Padahal, 30 hingga 50 persen kehidupan anak berada di sekolah.

“Apalagi kalau full day, dan tidak ada snack sehat di sekolah, sulit untuk mendapatkan makanan sehat. Sementara di negara lain, buah-buahan ada di sekolah,” ujarnya.

Aman menyoroti prevalensi munculnya diabetes pada anak. Dia mendukung penerapan cukai pada minuman manis, sebagai salah satu langkah agar masyarakat, terutama anak-anak, tidak kecanduan.

“Diabetes pada anak, banyak disebabkan oleh kandungan gula yang berlebih dalam makanan atau minuman berpemanis. Industri sekarang ini harus jujur, dalam arti memastikan kandungan gula. Walaupun jus yang katanya tanpa gula, ternyata ini juga ada kandungannya,” tegas Aman.

Para penumpang berjalan melewati mesin penjual otomatis Kirin yang menawarkan minuman dari raksasa minuman tersebut di peron kereta bawah tanah di Osaka. (Foto: AFP)

Para penumpang berjalan melewati mesin penjual otomatis Kirin yang menawarkan minuman dari raksasa minuman tersebut di peron kereta bawah tanah di Osaka. (Foto: AFP)

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Prof Dr dr Ketut Suastika, SpPD-KEMD mengungkapkan adanya peningkatan dan pergeseran pasien diabetes, yang kini menyasar generasi di bawah umur 40 tahun.

“Kalau dulu pengidap diabetes berumur di atas 50 tahun, kini sudah bergeser mulai di bawah usia 40 tahun. Ada 5 persen yang saya tangani itu. Sebelumnya sangat jarang,” ujar Ketut.

Pergeseran pola usia pengidap diabetes ini, imbuh Ketut, perlu langkah diantisipasi sejak usia dini. Ketut khawatir, pola konsumsi gula berlebih memicu diabetes tipe 2 sejak usia muda.

Pengobatan diabetes dan penyakit turunannya tergolong relatif mahal. Ketua Tim Kerja Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolik Kemenkes, Esti Widiastuti mencatat, peningkatan pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia diakibatkan diabetes dan sejumlah penyakit turunannya.

“Pada 2021, biaya JKN tertinggi disebabkan oleh gangguan jantung dengan Rp8,7 triliun, kanker Rp3,5 triliun, stroke Rp2,2 triliun, dan gagal ginjal Rp 1,8 triliun,” tandas Esti. [ys/ns/em]

[ad_2]

Berita Terkait

Kasus Siskaeee Dkk, Polda Metro Limpahkan Berkas 12 Orang Tersangka Produksi Film Porno ke Kejati DKI
Paus akan ke Indonesia, Singapura, Timor-Leste, Papua Nugini pada 2-13 September
Lindungi Remaja dan Lawan “Sextortion,” Instagram Buat Fitur Baru yang Kaburkan Konten “Telanjang”
Wadah Makanan Ramah Lingkungan Bantu Tekan Polusi Plastik
Gereja Katolik Portugal Setujui Kompensasi Korban Pelecehan Seksual
Protes di Swedia pasca Penembakan oleh Geng Remaja
Hidangan Lebaran di Turki yang Ramah Diabetes
Pelajar Polandia Senang ada Larangan PR Sekolah

Berita Terkait

Minggu, 9 Juni 2024 - 11:47 WIB

Jaga Harga Wajar di Tingkat Konsumen, Pemerintah Resmi Tetapkan Harga Eceran Tertinggi Beras

Kamis, 23 Mei 2024 - 11:49 WIB

BI Rate Tetap 6,25 Persen untuk Perkuat Stabilitas dan Jaga Pertumbuhan Ekonomi dari Dampak Global

Kamis, 16 Mei 2024 - 07:23 WIB

Bapanas Intensifkan Pemantauan dan Intervensi Program untuk Jaga Stabilitas Pangan Jelang Iduladha

Selasa, 14 Mei 2024 - 11:42 WIB

Kemendagri Minta Seluruh Pemerintah Daerah Pantau Perkembangan Tingkat Inflasi di Wayahnya

Selasa, 14 Mei 2024 - 09:18 WIB

Soal Perkembangan Tingkat Inflasi di Wayahnya, Kemendagri Minta Seluruh Pemerintah Daerah Pantau

Selasa, 7 Mei 2024 - 16:17 WIB

Airlangga Sebut Perlunya Aksi Berbasis Solusi bagi Disrupsi Global di Pertemuan Tingkat Menteri OECD

Selasa, 30 April 2024 - 15:58 WIB

Mencapai Sebesar Rp43,2 Triliun, Realisasi Investasi Hilirisasi di Sektor Mineral pada Kuartal I 2024

Sabtu, 27 April 2024 - 13:17 WIB

Rp 2 Triliun untuk Non Infrastuktur Termasuk Promosi dan Sosialisasi, Realisasi Anggaran APBN IKN Rp4,3 triliun

Berita Terbaru